1.08.2010

Kisah si tukang sol sepatu



Ada juga kisah tentang tukang sol sepatu, diambil dari kitab Shalat ASh-Shalihin dari Abu Abdullah alias Ibnu Al - Munqadir ( saya mengambilnya dari buku pelatihan shalat smart oleh M. shodiq Mustika )


 Waktu itu 
Ibnu Al-Munqadir biasa bershalat di dekat tiang favorit saya di bagian belakang Masjid Nabawi pada waktu malam. Pada suatu ketika, penduduk kota Madinah mengalami paceklik selama setahun karena hujan tidak turun. Para penduduk sudah menjalankan shalat Istiqa', tetapi belum juga ada hujan.

Pada suatu malam, ketika
Ibnu Al-Munqadir shalat Isya, tiba-tiba datang seorang lelaki yang berpakaian serba hitam. Tanpa mengetahui keberadaan saya di masjid itu, ia berjalan menuju sebuah tiang, kemudian shalat dua rakaat.

Seusai itu, ia duduk sambil menangis dan berdoa, "Tuhanku, penduduk Tanah Suci Nabi-Mu telah keluar rumah untuk memohon hujan, namun Engkau belum berkenan memberi mereka hujan. Wahai Tuhanku, kumohon turunkanlah hujan dengan rahmat-Mu."

Mendengar doa itu,
Ibnu Al-Munqadir berkata dalam hati, "Ini ( permintaan ) gila." Namun, belum sampai lelaki itu meletakkan kedua tangannya, mendadak saya dengar suara halilintar yang disusul dengan langit yang menumpahkan air hujan. Akibatnya, Ibnu Al-Munqadir tidak bisa kembali pulang kerumah.

Ketika mendengar suara rintik hujan, lelaki tersebut berdiri seraya mengucap puji-pujian yang sama sekali belum pernah saya dengar. Ia berkata,"Ya, Tuhan! Siapakah hamba ini sampai-sampai Engkau berkenan mengabulkan doa hamba?" Kemudian ia terus shalat tanpa henti........

Setelah iqamat shalat subuh, ia shalat bersama orang-orang lain. Sesudah itu, ia langsung keluar masjid. Saya pun ikut keluar untuk membuntutinya, sehingga tahulah saya rumah tempat tinggalnya.

Pada saat matahari terbit,
Ibnu Al-Munqadir keluar rumah untuk mendatangi rumahnya. Ibnu Al-Munqadir lihat, ia duduk sambil menjahit sandal. Ternyata, dia seorang tukang sol sepatu.

Begitu melihat
Ibnu Al-Munqadir rupanya dia mengenali .. Ia pun menyambut . " Selamat datang, Abu Abdullah. Apakah kau ingin aku buatkan sepatu?". "Bukankah kau sabat saya tadi malam itu?" tanya Ibnu Al-Munqadir penuh selidik.

Mendengar pertanyaan saya ini, wajahnya menghitam. Ia gusar, "Hai Ibnu Al-Munqadir! Apa urusanmu tentang hal itu?"

Malam harinya,
Ibnu Al-Munqadir kembali shalat Isya di bagian belakang Masjid Nabawi sambil menunggu si tukang sol sepatu. Namun, ia tak kunjung datang....

Setelah matahari terbit, saya keluar untuk mendatangi rumahnya.
Ibnu Al-Munqadir dapati, rumahnya terbuka, tetapi tidak ada seorang pun di dalamnya. Beberapa tetangganya ( mendatangi dan ) menanyai saya, "Wahai Abu Abdullah! Apa sebenarnya yang terjadi kemarin antar kau dan dia?"

Ibnu Al-Munqadir balik bertanya, "Ada apa dengannya?"

Mereka menjawab, "Selepas kau keluar dari rumahnya kemarin, ia segera membentangkan kainnya di tengah rumah dan mengambil semua isi rumah tanpa meninggalkan apa pun. Kemudian ia pergi dan kami tidak tahu ke mana perginya."

Sejak itu,
Ibnu Al-Munqadir terus mencarinya tanpa pernah melewatkan satu rumah pun di Madinah. Namun, Ibnu Al-Munqadir tidak pernah menemukannya lagi.


Kisah diatas menggambarkan betapa seriusnya sang tukang sol sepatu dalam upayanya menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT. Keseriusannya dalam menepis sesuatu yang berpotensi mencemarkan keikhlasannya sungguh patut dijadikan teladan.

2 komentar:

Aulawi Ahmad mengatakan...

cerita yg penuh makna dan sangat bermanfaat..tq 4 share :)

rahmatea mengatakan...

cerita yang menggugah hati.....berusahalah untuk selalu menjaga kesucian hati....

Posting Komentar

Terimakasih sahabat telah berkunjung di blog sederhana ini
saya ada blog yang lain yaitu taman kunang-kunang terimakasih

Artikel

Followers